Senin, 25 Mei 2015

Mari Bertransformasi

Tidak ada komentar :



Delapan puluh tahun lebih sudah semenjak sumpah suci para pemuda bangsa Indonesia terucap dari para pemuda-pemuda pejuang masa lalu. Semangat menggebu-gebu dan juga  api perjuangan yang membara di hati para pemuda saat itu mampu menggetarkan semangat persatuan seluruh pemuda di Indonesia ini. Janji bahwa seluruh pemuda Indonesia bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia dan berbahasa satu bahasa Indonesia mampu menjadi tonggak pengikat awal perjuangan bangsa ini.
            Api yang tak pernah padam itulah ciri yang ada dalam pemuda, pemuda adalah agen perubahan yang mesih memiliki ide-de segar dan brilian serta idealisme yang masih tegak kokoh berdiri. Perjalanan suatu bangsa tidaklah terlepas dari pemeran pemudanya karena pemuda adalah usia dimana seseorang itu produktif dan memiliki gagasan-gagasan baru. Bahkan bapak pendiri negara republik Indonesia ini yaitu Ir. Soekarno mengaggumi sendiri semangat dan kekuatan pemuda itu sendiri. Dalam pidatonya bahkan beliau berkata bahwa sanggup mengguncang dunia dengan sepuluh orang pemuda. Memang terkesan suatu hal yang niscaya akan tetapi tidak menampik bahwa memang sedemikian vitalnya peran pemuda itu.
            Pemuda yang kan kita bicarakan pada tulisan ini adalah terfokus kepada mahasiswa. Mengapa mahasiswa? Karena mahasiswa itu adalah fase diman pemuda itu digembleng intelektualitas dan kapasitas kemampuan dirinya dalam suatu wadah kawah candradimuka berupa perguruan tinggi, organisasi mahasiswa dan kegiatan-kegiatan positif lainnya. Fase kawah candradimuka ini dapat dibilang adalah sebagai suatu fase dimana mahasiswa itu bisa memiliki banyak jalan menuju pencarian jati dirinya, namun yang menentukan akhirnya adalah sang mahasiswa itu sendiri. Perguruan tinggi dan organisasi tambahan lainnya itu hanya sebatas sarana atau wadah saja tapi bahan mentah yang kan ditempa dan dibentuk itu adalah mahasiswa itu sendiri.
            Berbicara tentang gerakan mahasiswa masa kini, mungkin kita akan sedikit bernostalgia ke masa lalu. Mahasiswa mengalami perubahan-perubahan selaras dengan jaman. Dahulu kita melihat mahasiswa itu hanya ada dua kata dalam semboyan hidupnya “Merdeka atau Mati” itu masa ketika perang kemerdekaan dan awal pembentukan negara ini. Idealisme mahasiswa saat itu kuat dan mahasiswa memiliki intelektualitas yang kritis karena setiap hari melawan pemikiran dan tekanan dari penjajah. Kemudian beranjak ke fase-fase pemerintahan Presiden Soekarno idealisme dan kritis dari mahasiswa belum beranjak bahkan periode ini melahirkan salah satu tokoh mahasiswa yang terkenal yaitu Soe-Hok-Gie. Kemudia lanjut ke masa-masa tahun 65, pada tahun ini terjadilah pertarungan ideologi yang begitu kuat dan keras dari sesama mahasiswa itu sendiri ada yang berpaham marxisme sehingga menamakan diri mereka golongan kiri yang bentrok dengan mereka yang beraliran saat itu dimotori oleh ideologi agama. Sehingga begitu kencangnya perang urat saraf waktu itu. Setelah tumbanganya Orde Lama dan beralih ke Orde Baru tekanan terhadap setiap gerakan-gerakan yang mengkritisi rezim yang saat itu berkuasa begitu kencang. Setiap kampus disensor dan dan dibredel jika ditemukan apa saja yang mencurigakan. Tekanan yang kuat tidaklah menyurutkan tekad dan semangat para mahasiswa saat itu bahkan justru gerakan mahasiswa sangat gencar dan semakin aktif. Alhasil tercapailah Reformasi 98 yang merupakan sejarah dalam gerakan mahasiswa saat itu.
            Itu adalah sedikit kisah perjalanan gerakan mahasiswa, namun bagaimanakah saat ini. Bagaimana nasib gerakan saat ini. Dengan era kebebasan saat ini justru seharusnya malah gerakan mahasiswa itu bisa bebas berekspresi bukan. Tapi dalam kenyataannya gerakan mahasiswa saat ini justru memudar. Katakanlah organisasi gerakan mahasiwa sekarang justru malah seperti mati suri, kehilangan arah mau kemanakah tujuannya. Ditambah sikap apatis mahasiswa yang tidak mau bersikap kritis dan gencarnya pembodohan melalui media semakin meninabobokan gerakan itu. Seharusnya momen seperti ini dijadikan masalah bersama bagi seluruh gerakan mahasiswa dimanapun untuk bangkit melawan karena musuh kita bukan lagi rezim atau penjajahan fisik akan tetapi penjajahan intelektual dan moralitas. Lawan kita kali ini tidak kasat mata mereka mengaintai setiap saat, sudah banyak yang jatuh ke lubang perangkap.
            Gerakan mahasiswa saat ini harusnya semakin dewasa dan bermain cantik dalam mengikuti arus zaman ini, budaya dan ide baru itu tidak mungkin dibendung maka dari itu, gerakan mahasiswa yang kekinian adalah gerakan mahasiswa yang bersifat merangkul dan mengajak kepada seriap elemen mahasiswa dan bersifat konstruktif. Perang ideologi itu cerita masa dulu dan perang dengan rezim itu adalah sejarah yang telah lalu. Kita sekarang harus bertransformasi menuju gerakan mahasiswa yang lebih merangkul, konstruktif, solidaritas dan lebih bermasyarakat terutama ke mahasiswanya sendiri karena masih banyak mahasiswa yang apatis.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar