Rabu, 20 Mei 2015
IDIOPOLSTRATAK
IDEOPOLITOR-STRATAK SEBAGAI PISAU ANALISIS INTELEKTUAL
MUDA UNTUK MEWUJUDKAN PEMIMPIN TRANSFORMATIF”
Diawali dari pengetahuan manusia terhadap realitas,
merupakan bukti bahwa kecenderungan dalam mencari serta menemukan kebenaran
sebagai media dalam mencapai tujuan adalah fitrah manusia. Termasuk wilayah
pengetahuan yang akan bersama-sama dikaji dalam Intermediate Training ini,
yaitu ideologi, politik serta strategi dan taktik (Ideopoltor-Stratak).
Berbicara soal ideopolitor-setratak tidak lepas dari
wilayah kajian politik, namun perlu difahami bahwa politik yang dimaksud adalah
sebatas pengetahuan atau ilmu politik, bukan politik praktis. Karena HMI adalah
organisasi mahasiswa yang bersifat perkaderan dan perjuangan (AD HMI Bab IV
Pasal 7,8,9) bukan partai politik ataupun organisasi yang berafiliasi atau
bahkan menjadi underbow partai politik yang memiliki kepentingan mutlak
demi kekuasaan. Politik adalah Sebagai media dalam mencapai tujuan, politik
bukan lagi merupakan istilah yang asing atau bahkan tabu bagi kalangan
mahasiswa. Namun hal penting yang harus difahami terkait dalam perjuangan
politik adalah landasan gerak (epistemology, pandangan dunia dan ideologi),
manusianya (kader), serta strategi dan taktik.
Kajian ideopolitor stratak akan nampak dalam kehidupan
diantaranya adalah bagaimana kekuatan ideologi yang dimiliki dapat
diaplikasikan dan diwujudkan secara nyata dengan menggunakan politik melalui
strategi dan taktik yang elegan dan rapi, sehingga tujuan daripada yang
diharapkan dapat tercapai dengan baik.
Berangkat dari ideologi yang kuat yang telah
mendarah-daging dan dilandasi dengan ketauhidan yang kokoh pula serta memiliki
pisau analisis yang tajam untuk mengamalkan dalam karya nyata maka kiranya pelu
memiliki alat dan pakem yang tepat, yakni dengan menggunakan politik dan
strategi yang tepat pula, agar apa yang direncanakan dalam tercapai sesuai
harapan. Namun tidak selesai pada tataran idiologi, politik, dan strategi yang
matang saja, tapi sebagai eksekutornya tetap dibutuhkan seseorang dengan mental
pelopor, visioner dan memiliki kesadaran tanggung jawab individu dan sosial,
yaitu seorang yang memiliki jiwa “kepemimpinan transformatif”, dalam hal ini
adalah “pemimpin muda” dan tentunya embrio pemimpin muda yang ideal berasal dari
HMI.
Menyoal tentang pemimpin transformative, ia adalah
pemimpin yang menggunakan karisma mereka untuk melakukan transformasi dan
merevitalisasi organisasinya. Dan ia lebih mementingkan revitalisasi para
pengikut dan organisasinya secara menyeluruh ketimbang memberikan
instruksi-instruksi yang bersifat top-down. Pemimpin yang transformatif
lebih memposisikan diri mereka sebagai mentor yang bersedia menampung aspirasi
para bawahannya.
Dalam perspektif kepemimpinan transformatif, sekat
yang membatasi antara peran kaum muda dan golongan tua sejatinya justru menjadi
jembatan dalam melakukan proses transformasi kepemimpinan. Persoalan
sesungguhnya bukan terletak pada kutub perbedaan cara pandang antara kaum muda
versus kaum tua,antara prokemapanan versus properubahan. Persoalan sesungguhnya
justru terletak pada bagaimana membangun mekanisme dan sistem transformasi
kepemimpinan. Hal itu hanya bisa berjalan jika ada visi dan konsistensi yang
kuat dalam jiwa seorang pemimpin. Dan, itu bukan monopoli kaum tua atau kaum
muda saja. Tidak hanya itu, pemimpin transformatif mampu membaca peluang dan
situasi yang ada, dan kemudian membuat langkah-langkah yang strategis guna
mewujudkan cita-citanya.
Sejarah tidaklah berhenti pada satu noktah generasi.
Sejarah akan terus menghadirkan tokoh dan pemimpinnya. Sejarah pula yang akan
membuktikan apakah seorang pemimpin akan tercatat dengan tinta emas atau tinta
hitam penuh bercak. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang berhasil
melahirkan pemimpin yang melebihi kemampuannya.
STRATAK hanya boleh
dipelajari oleh kader HMI yang militan dan bermental pelopor, kader yang telah
memiliki kesadaran ideologi dan organisasi serta sanggup berfikir politis
realistis.
Seorang yang penakut,
menghindari resiko dan lebih mengedepankan kepentingan pribadi dari pada
kepentingan perjuangan “HARAM” mempelajari STRATAK.
STRATAK adalah modal untuk
bergerak dengan “elegan” dan penuh perhitungan yang matang, tidak sembrono,
anarkis dan nyelonong “offside” serta tidak bertindak radikal ekstrem yang ngawur
dan nekad.
Pokok Pembahasan
* Ideopolitor-Stratak
* Pemimpin Transformatif
I.
IDEOLPOLITOR STRATAK
A.
Pengertian ideopolitor-stratak
1.
Ideologi
Ideologi berasal dari bahasa Yunani dan merupakan
gabungan dari dua kata yaitu edios yang artinya gagasan atau konsep dan logos
yang berarti ilmu. Pengertian ideologi secara umum adalah sekumpulan ide,
gagasan, keyakinan dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis. Dalam arti
luas, ideology adalah pedoman normatif yang dipakai oleh seluruh kelompok
sebagai dasar cita-cita, nila dasar dan keyakinan yang dijunjung tinggi. Pada
wilayah ideologi, tauhid jelas haruslah menjadi dasar utamanya (sumber).
Bagaimana pemahaman kader maupun manusia secara umum tentang Tauhid menjadi
dasar dari epistemologinya. Sehingga dengan pengetahuan yang bersumber dari
Tauhid tersebut akan dapat menghasilkan pandangan dunia yang objektif.
Selanjutnya pandangan dunia atau cara memahami realitas tersebut yang nantinya
sebagai perangkat ideologi. Jika lebih disederhanakan lagi, ideologi sangatlah
penting dalam perjuangan politik, sebab ideologi sebagai landasan setiap gerak
yang akan diaktualisasikan.
2.
Politik
Politik secara sederhana
dapat kita artikan sebagai suatu media untuk mencapai maksud atau tujuan.
Politik merupakan pengetahuan terapan, di mana dengan pengetahuan politik
maksud serta tujuan yang akan dicapai dapat diperjuangkan melalui perjuangan
politik dengan menggunakan ilmu pengetahuan politik. Tentu saja di dalam
politik tersebut masih membutuhkan banyak pengetahuan terapan yang lain, yaitu
strategi dan taktik.
“Ilmu tanpa
amal adalah dosa, demikian pula amal tanpa ilmu.” Pernyataan
tersebut adalah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, jika kita kaitkan
dengan perjuangan politik, maka politik adalah merupakan sebuah amal, jika
tidak disertai dengan ilmu maka akan sia-sia. Dalam sebuah perjuangan politik,
strategi dan taktik adalah ilmunya, selain landasan tauhid sebagai dasar
ideologi dan juga pengetahuan mengenai ilmu politik itu sendiri.
3.
Strategi dan taktik
Mengambil istilah “sebuah peperangan”, strategi adalah memanfaatkan pertempuran
untuk mengakhiri peperangan. Sedangkan taktik adalah penggunaan kekuatan untuk
memenangkan suatu pertempuran. Dalam pandangan HMI, seperti yang
diungkapkan oleh Dahlan Ranuwiharjo sebagai tokoh pendidik politik di HMI bahwa
strategi adalah Bagaimana menggunakan peristiwa-peristiwa politik dalam jangka
waktu tertentu untuk mencapai rencana perjuangan, sedangkan taktik adalah
bagaiman menentukan sikap atau menggunakan kekuatan dalam menghadapi peristiwa
politik tertentu pada saat tertentu.
B.
Hubungan Taktik dengan Strategi
Taktik merupakan bagian dari strategi. Maka dalam hal
ini, taktik harus tunduk kepada strategi yang ada.
ĂĽ Jika semua
taktik berhasil maka strateginya berhasil.
ĂĽ Jika Semua
taktik gagal maka strateginya gagal.
ĂĽ Jika salah satu
taktik gagal, maka strategi masih bias berhasil dengan syarat taktik yang
lainnya berhasil, dan bersifat strategis.
ĂĽ Jika Sebagian
taktik berhasil namun sebagian taktik strategis yang lain gagal, maka stratgi
gagal.
Taktik strategis adalah taktik mengenai suatu kejadian
politik, namun kejadian itu menentukan bagi seluruh rencana strategis, dengan
kata lain taktik ini adalah taktik utama/ prioritas.
C.
Dasar-dasar Menyusun Strategi
Dalam menyusun suatu strategi untuk mencapai tujuan
tertentu ada bebrapa hal mendasar yang perlu diperhatikan, diantaranya:
ĂĽ Menetapkan sasaran yang hendak dicapai oleh organisasi
dalam jangka waktu tertentu. Sasaran disesuaikan dengan kemampuan oranisasi.
ĂĽ Jangka waktu ditentukan sebagai jangka waktu sekarang
(jangka pendek) dan jangka waktu beberapa tahun ke depan (jangka panjang).
ĂĽ Harus terdapat rencana atau strategi alternatif.
ĂĽ Harus dapat menambah kekuatan serta memperkuat posisi.
ĂĽ Harus mampu membentuk opini publik (subyektifitas
menjadi objektifitas)
D.
Dasar-dasar Membentuk Taktik
Taktik merupakan bagian dari strategi, berikut adalah
beberapa dasar dalam membentuk sebuah taktik:
1.
Fleksibilitas
Yaitu sikap dan langkah yang dapat berubah sesuai dengan kondisi yang terjadi.
2.
Orientatif, evaluative dan estimatif.
Perjuangan politik tidak mampu melihat hasil atau keberhasilan yang dicapai
nanti, sebab hal tersebut belum terjadi. Namun dengan menentukan langkah,
mengira-ngira (mengorientasikan) serta mengevaluasi keadaan dan kemungkinan
yang akan terjadi, disertai dengan memperhitungkan beberapa hal maka kita akan
dapat melihat bayangan aka nada dan tidaknya kesempatan untuk berhasil.
3.
Kerahasian
Strategi harus dirahasiakan, biarlah lawan meraba apa langkah perjuangan yang
akan kita lalui.
4.
Gerak tipu/mengelabuhi.
5.
Lima S; (Sasaran, Sarana, Sandaran, Sistem, Saat).
6.
Perpaduan antara Kondisi Objektif dan Kondisi Objektif, kondisi subjektif
mematangkan kondisi objektif, begitu juga sebaliknya. Antara kedua kondisi ini
memiliki hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi.
E.
Hukum-hukum Stratak
1.
Kuantitas.
Jumlah yang besar akan
mengalahkan jumlah yang kecil. Pihak yang berjumlah kecil tidak boleh
menyerang musuh yang berjumlah besar. Jika musuh yang berjumlah besar
menyerang pihak yang berjumlah kecil hendaknya menyingkir. Musuh yang
berjumlah besar tidak dapat dihancurkan sekaligus, melainkan sedikit demi
sedikit dan secara terus menerus.
2.
Perpaduan antara kualitas dan kuantitas.
Kurang dalam kuantitas harus
diimbangi dengan kelebihan dalam kualitas. Kurang dalam kualitas harus
diimbangi dengan kelebihan kuantitas.
3.
Posisi.
Posisi yang baik adalah separuh
kekuatan. Posisi yang tidak baik memerlukan dua kali kekuatan.
4.
Cadangan.
Pihak yang mempunyai cadangan,
walaupun telah mundur dan kalah akan dapat maju kembali. Jika musuh sedang
kalah dan mundur, kejarlah. Hancurkan cadangan musuh sebelum musuh
maju dan bangkit kembali dengan cadangannya.
5.
Kawan, Sekutu dan Lawan.
Secara ideologis, kawan adalah
yang seideologi. Secara strategis sekutu harus selalu diperbanyak dan pihak-pihak lawan harus dikurangi. Musuh nomor satu adalah
golongan terbesar yang ideologinya membahayakan kehidupan ideologi sendiri.
Sekutu dan musuh nomor satu adalah lawan. Lawan dan sekutu nomor satu adalah
musuh. Antara sekutu dan musuh terdapat golongan-golongan yang bukan musuh dan
bukan sekutu. Golongan ini pada suatu saat
dapat menjadi musuh, pada saat lain menjadi sekutu dan pada satu ketika dapat pula
sekaligus menjadi sekutu dan musuh.
6.
“Divide et impera”. Pecah belah musuh dan hancurkan dulu yang besar.
7.
Menyerang
Menyerang adalah Pertahanan yang
Terbaik.Yang menang ialah yang selalu memegang inisiatif. Biarkan lawan bergerak
menurut inisiatif kita pada saat dan tempat kita pilih. Biarkan lawan beraksi
terus terhadap isu-isu yang kita lontarkan. Tujuan membenarkan setiap cara
sepanjang tidak bertentangan dengan kekuatan ideology serta tidak membawa
akibat yang dapat merugikan sendiri.
F.
Peran stratak sebagai alat perjuangan organisasi
Stratak adalah cara digunakan oranisasi untuk mencapai sasaran perjuangan.
Garis dari setiap stratak harus disesuaikan dengan kondisi organisasi.
Kesuksesan stratak akan semakin memperkuat organisasi, begitu juga sebaliknya.
Semakin berkurang kekuatan organisasi, semakin tidak mampu organisasi itu
melaksankan stratak yang besar, semakin kecil stratak yang dapat dilaksanakan
oleh organisasi semakin jauh organisasi tersebut dari tujuan perjuangan
politiknya. Stratak tidak mampu berdiri sendiri, melainkan dia hanya alat
pelaksana bagi tujuan ideologi, yaitu untuk mempertahankan dan menambah
kekuatan serta posisi sendiri, di samping itu juga untuk menghancurkan dan
mengurangi kekuatan serta posisi lawan.
II.
PEMIMPIN TRANSFORMATIF
A. Pengertian
Pemimpin Transformatif
Pemimpin transformatif adalah
pemimpin menggunakan karisma mereka untuk melakukan transformasi dan
merevitalisasi organisasinya. Dan ia lebih mementingkan revitalisasi para
pengikut dan organisasinya secara menyeluruh ketimbang memberikan instruksi-instruksi
yang bersifat top-down. Pemimpin yang transformatif lebih memposisikan
diri mereka sebagai mentor yang bersedia menampung aspirasi para bawahannya.
B. Ciri-ciri
Pemimpin Transformatif
Pertama, pemimpin transformatif memiliki karisma yang
dapat menghadirkan sebuah visi yang kuat dan memiliki kepekaan terhadap misi
kelembagaannya.Ini berarti setiap gerak dan aktivitasnya senantiasa disesuaikan
dengan visi dan misi organisasinya. Inilah yang dijadikan sebagai acuan untuk
tetap konsisten dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakannya.
Kedua, senantiasa menghadirkan stimulasi intelektual.
Artinya, mereka selalu membantu dan mendorong para pengikutnya untuk mengenali
ragam persoalan dan cara-cara untuk memecahkannya. Para pengikutnya diberi
kesempatan untuk berpartisipasi mengidentifikasi persoalan dan secara bersama-
sama mencari cara penyelesaian yang terbaik. Dalam karakteristik ini, pemimpin
transformatif lebih banyak mendengar ketimbang memberikan instruksi.
Ketiga, pemimpin yang transformatif memiliki perhatian dan
kepedulian terhadap setiap individu pengikutnya. Mereka memberikan dorongan,
perhatian, dukungan kepada pengikutnya untuk melakukan hal yang terbaik bagi
dirinya sendiri dan komunitasnya.
Keempat, pemimpin transformatif senantiasa memberikan
motivasi yang memberikan inspirasi bagi pengikutnya dengan cara melakukan
komunikasi secara efektif dengan menggunakan simbol-simbol, tidak hanya
menggunakan bahasa verbal.
Kelima, berupaya meningkatkan kapasitas para pengikutnya
agar bisa mandiri, tidak selamanya tergantung pada sang pemimpin. Ini berarti
pemimpin transformatif menyadari pentingnya proses kaderisasi dalam
transformasi kepemimpinan berikutnya. Ini berbeda dengan model kepemimpinan
karismatik yang memosisikan para pengikutnya tetap lemah dan tergantung pada
dirinya tanpa memikirkan peningkatan kapasitas dari para pengikutnya.
Keenam, para pemimpin transformatif lebih banyak memberikan
contoh ketimbang banyak berbicara. Artinya, ada sisi keteladanan yang
dihadirkan kepada para pengikutnya dengan lebih banyak bekerja ketimbang banyak
berpidato yang berapi-api tanpa disertai tindakan yang konkret.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar