Senin, 25 Mei 2015
HMI, Antara Meraih Cita dan Merajut Asa
Enam puluh delapsan tahun silam, Lafran pane bersama ke-empat belas teman kelas Ilmu tafsir Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam. Pendirian organisasi ini tidak lain disebabkan karena urgensitas kelompok pemuda saat itu untuk menghentikan kejumudan pemikiran yang secara nyata telah menghiasi dunia kelompok pemuda pasca kemerdekaan Republik Indonesia yang dibacakan oleh Dwitunggal Soekarno-Hatta. Berbagai hal yang bersifat duniawi menjadi sangat kentara dengan meniadakan hal yang bersifat ukhrawi. Didukung dengan sistem pendidikan awal kemerdekaan yang telah terkooptasi oleh Pendidikan Barat(Kolonialisme Belanda selama 350 tahun), upaya pemisahan tiap segi kehidupan yang bersifat profan maupun sakral menjadi snagat nyata. Sehingga tidaklah heran timbul pergolakan para pemikir dari kelompok Muda saat itu untuk mentransformasikan nilai sila pertama Pancasila dalam kehidupan nyata. Melalui latar belakang inilah, Himpunan Mahasiswa Islam lahir menopang tiang kemerdekaan Republik Indonesia.
Sudah enam puluh delapan tahun lamanya HMI berjalan mengikuti arah gerak Republik Indonesia. Mengikuti arah gerak Republik Indonesia memiliki makna HMI akan selalu ada dan bersama selama Republik Indonesia masih ada. Sesuai dengan intisari dari tujuan HMI pada saat awal didirikan yakni turut serta dalam upaya “Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan Mempertinggi Derajat Rakyat Indonesia”. Oleh karena itu, bingkai ke-Indonesiaan menjadi sangat melekat pada diri tiap kader HMI. Tentunya hal tersebut tidak akan mewujudkan cita-cita besar Republik Indonesia sesuai yang tecantum pada sila kelima Pancasila. Artinya adalah perwujudan kebesaran Republik Indonesia akan menjadi nyata dan mampu bertahan disegala rintangan percaturan global, tatkala tiap elemen Republik Indonesia menyatakan sebagai makhluk yang berKetuhanan. Oleh karena itu, tujuan HMI yang kedua melengkapi komitmen ke-Indonesiaan pada tujuan pertama HMI dengan senantiasa mengembangkan dan menegakkan syiar Islam. Antara perkembangan pemikiran sangat relevan dengan perkembangan zaman jika suatu bangsa bertekad mengikuti alur percaturan global tanpa harus meninggalkan identitas lokal khas Republik Indonesia. Sehingga lengkaplah perpaduan komitmen ke-Indonesiaan dan ke-Islaman pada tubuh HMI sejak awal berdiri.
Enam puluh delapan tahun sudah bangsa ini mengalami pasang surut kehidupan. Sebagai organisasi kemahasiswaan terbesar dan tertua yang saat ini masih tegak berdiri menatap zaman, HMI sudah selayaknya mampu mengejawantahkan nilai-nilai dasar perjuangan HMI untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wataala. Pengejawantahan yang utuh terhadap nilai-nilai dasar perjuangan HMI, dalam sisi praksis akan berdampak terhadap kualitas-kualitas sumber daya manusia Indonesia. Berhasil tidaknya pengejawantahan nilai-nilai dasar perjuangan HMI oleh jutaan kadernya yang telah tersebar ditiap penjuru Nusantara akan menentukan arah gerak Republik Indonesia. Berbagai berita negatif tentang keberadaan alumni HMI sering disuarakan oleh berbagai media di republik ini. Hal tersebut, jelas berdampak terhadap kondisi psikologis tiap kader HMI lainnya. Namun, hal tersebut dapat menjadi suatu pelajaran berharga bahwa ide-ide ataupun konsep-konsep yang telah diterima oleh tiap kader HMI saat berkader diri di kawah candradimukan HMI akan menemukan kesia-siaanya saat benteng ketaqwaan sebagai cerminan sila pertama Pancasila semakin menjauh. Inilah perwujudan seben arnya HMI saat ini.
Enam puluh delapan tahun bukan merupakan usia muda lagi bagi kehidupan HMI. Permasalahan-permasalahan saat ini dan mendatang harus siap dihadapi oleh tiap kader HMI. HMI yang notabene menjadi organisasi kemahasiswaan tertua yang saat ini masih tegap kokoh berdiri harus mampu menjadi bapak terhadap organisasi-organisasi kemahasiswaan lainnya. Kesibukan mengurusi dinamika rumah tangga harus segera diselesaikan oleh tiap tingkatan kepemimpinan HMI. Karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan Republik Indonesia, sehingga HMI memiliki andil didalamnya. Upaya peningkatan 5 Kualitas Insan Cita tiap kader Hmi harus bebarengan dengan upaya peningkatan militansi kader. Nilai-nilai intelektualitas yang tergambar pada 5 Kualitas Insan Cita HMI merupakan permasalah pokok yang harus segera diselesaikan. Intelektualis kader yang bermuara pada pemikiran-pemikan baru tentang ke-Indonesiaan dan ke-Islaman harus segera disuarakan secara lantang. Terlebih di saat bangsa ini telah meratifikasi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Suatu keharusan terhadap kader HMI untuk selalu melakukan terobosan-terobosan sehingga bangsa ini tidak menjadi penonton di wilayahnya sendiri.
Ledakan penduduk usia produktif di Republik Indonesia pada tahun 2030 merupakan suatu anugerah yang dikaruani Allah Subhanahu wataala terhadap negeri ini. Mengingat tidak banyak negara yang dikaruniai ledakan penduduk usia produktif dan terbukti berhasil memanfaatkannya. Belajar dari hal tersebut, dapat ditegaskan bahwa wajah Republik Indonesia tahun 2030 mendatang jelas tampak terlihat saat ini. Karena generasi muda saat inilah yang bakal menjadi pendorong utama perjalanan Republik Indonesia mendatang. Jika saat ini HMI masih bersenang-senang dengan euforia dinamika organisasi, berarti HMI turut serta menyediakan pintu-pintu besar kehancuran negeri ini. Tidaklah heran jika Nurcholish Madjid pernah mengatakan untuk segera membubarkan HMI. Jika HMI masih merasakan kenyamanannya saat ini, sehingga lupa hal-hal yang bersifat fundamental yakni senantiasa menelurkan pembaruan-pembaruan pemikiran yang bermuara pada komitmen ke-Indonesiaan dan ke-Islaman. Bisa dibayangkan wajah Bangsa kita ini dua puluh tahun yang akan datang ?
Dirgahayu Himpunan Mahasiswa Islam Ke-68.
5 Februari 1947 – 5 Februari 2015
Yakin Usaha Sampai
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar